//
you're reading...
Journal

Antara Kebutuhan dan Keimanan

Bekerja memang sebuah kewajiban yang bernilai ibadah, terlebih untk memberikan nafkah buat keluarga. Namun demikian bekerja tetap harus melihat rambu-rambu syari’ah yang telah dituntunkan oleh Rasullullah SAW. Aku jadi ingat sebuah hadit yang menyampaikan bahwa kalau kita diberikan rezki berupa harta maka akan diberi dua pertanyaan yaitu didapat dari mana? dan dibelanjakan kemana? ini adalah pertanyaan yang harus kita jawab dan sungguh sangatlah berat untuk menjawab itu kecuali kita memang benar2 mendapatkan dan membelanjakan dengan cara yang halal.

Karena tidak bisa dikatakan halal kalau itu telah tercampur dengan yang haram meskipun itu sedikit adanya, bagaikan air putih yang halal jika terkana air beralkohol yang jelas haram,meskipun itu hanya satu tetes maka haram pula air putih tersebut.

Begitu pula dengan aku, yang sampai saat ini masih aktif di sebuah perusahaan content service provider yang core bisnisnya adalah SMS service dan turunannya. namun telah 3 – 4 bulan ini aku selalu berfikir bahwa lingkungan yang terbentuk sebenarnya bagus, namun program-program yang dijalankan selalu membuat aku bimbang. Terlebih semenjak keluarnya Fatwa MUI yang jelas-jelas menyatakan keharaman program yang sedang berjalan.

Disamping itu MUI juga tidak pernah menerbitkan sertifikat halal untuk program terkait apapun bentuk dan metodenya serta kemasannya. Kalaupun toh itu ada yang mengklaim telah mendapakan sertifikat halal, jelas bukanlah dari MUI dan MUI tidak ada rencana untuk mencabut fatwa tersebut.

Memang ini merupakan perang batin probadi ku sendiri. Dari sekian ustad yang aku tanya langsung mengenai hal ini yang pada awal nya aku mencari sebuah pembenaran terhadap program2 tersebut, namun dengan bijak semua meng-amin-i fatwa mui tersebut. Hal ini semakin membuat aku sangat berfikir dalam.

Aku gak mau keluargaku aku beri nafkah dari hasl yang jelas – jelas haram tersebut dan aku tidak mau nantinya akan berimbas pada anak dan istriku. Aku sendiri meyakini bahwa setiap darah yang mengalir jika diberi makan dari yang halal Insya Allah akan berpengaruh baik pula terhadap segala tindak-tanduk.

Terus terang sampai saat ini aku masih sangat bimbang, namun aku harus berani mengambil keputusan demi kebaikan aqidahku, imanku, serta keluargaku.

Semoga Allah memberikan kekuatan dalam diri ku yang lemah dan dholim ini untuk bisa mengambil segala keputusan dengan baik dan bijaksana. (wallahua’lamu bishowab)

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: